Langsung ke konten utama

INDONESIA LAUTNYA KAYA?

Indonesia merupakan negara maritim yang 2/3 wilayahnya merupakan lautan. Hal ini tentu membuat Indonesia memiliki potensi kelautan yang sangat besar, baik sebagai jalur transportasi laut yang strategis maupun kandungan kekayaan alamnya yang melimpah, bukan hanya perikanan tetapi juga pertambangan dan mineral. Karena itu tak heran bahwa presiden Joko Widodo ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Namun sepertinya keinginan itu tidak dapat direalisasikan dalam waktu yang dekat. Indonesia masih memiliki beragam persoalan maritim yang belum terselesaikan, diantaranya adalah pencurian ikan di laut Indonesia, masalah ini bisa terjadi karena merosotnya sumber stok sumber daya ikan di sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Hal ini mendorong kapal-kapal penangkap ikan mereka memasuki perairan Indonesia. Sementara itu, di saat yang sama, potensi perikanan sejumlah daerah penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif ( ZEE) Indonesia saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pengawasan di ZEE Indonesia pun masih minim. Lalu bagaimana solusinya?. Salah satu solusinya adalah dengan membangun kesepakatan yang mengikat secara hukum dengan negara-negara tetangga berkaitan dengan praktik pencurian ikan di masing-masing perairan melalui Asean.

Masalah lainnya adalah ketimpangan agraria. Lebih dari 80 persen nelayan memburu ikan di laut di bawah 12 mil. Ini menyebabkan kompetisi ikan dilaut pesisir dan kerusakan lingkungan. Selain itu ketimpangan infrastruktur laut juga menjadi salah satu masalah yang penting. Indonesia mempunyai 816 pelabuhan yang 78 persennya berada di Indonesia bagian Barat. Padahal penangkapan ikan banyak di Indonesia Timur.

 Kurangnya pengetahuan dan teknologi para nelayan juga harus diperhatikan. Para nelayan Indonesia sudah kalah dan tertinggal dalam bidang teknologi dengan nelayan-nelayan dari Negara lain, misalnya Jepang. Sebagian besar nelayam mereka telah memakai GPS dan Fish tinder. Dengan teknologi GPS para nelayan bisa mengetahui koordinat lintang bujur, arah dan kecepatan. dengan bantuan gps juga para nelayan bisa menentukan rute perjalanan, menandai tempat-tempat penting: seperti tempat yang banyak ikan, tempat kapal karam, tempat yang dangkal dan sebagainya, dengan begitu tentunya dapat mengefesiensi penggunaan bahan bakar pada kapal, karna sudah memiliki rute perjalaan saat melakukan penangkapan ikan.

            lalu mereka juga memakai fish tinder, yakni teknologi yang memiliki 2 bagian penting yaitu display ( berfungsi menampilkan gambar) dan transducer yang dicemplungkan ke laut, transduser sendiri bekerja dengan cara memancarkan gelombang ultra sonic yang dipancarkan kemudian dipantulkan oleh dasar perairan dan ditangkap kembali oleh transduser kemudian di terjemahkan berupa gambar pada monitor, hasilnya kita dapat melihat gambar topografi perairan dan juga dapat mendeteksi ikan yang berada di bawah permukaan laut, tentu ini lebih efesien dibandingkan dengan sekedar insting saja, pastinya dengan bantuan alat ini dapat mempermudah para nelayan untuk melakukan aktifitas pencarian ikan di laut. Sayangnya masih belum banyak nelayan Indonesia yang memakai teknologi-teknologi tersebut. Pemerataan teknologi inilah yang perlu kita lakukan.

Hal yang sama juga terjadi di pertambangan bawah laut. Teknologi Indonesia tertinggal dengan Negara lainnya. Hal ini dikarenakan sedikitnya biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk riset. Data UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia menyediakan dana sebesar 2,1 juta dolar setahun untuk riset, setara dengan 0,1% dari GDP. Populasi periset adalah 89 orang per 1 juta penduduk. Sebagai perbandingan, Thailand membelanjakan 5,2 juta dolar, 0,5% dari GDP. Populasi perisetnya adalah 973 orang per 1 juta penduduk. Malaysia menghabiskan 9,7 juta dolar, 1,5% dari GDP, dan populasi perisetnya adalah 2017 orang per 1 juta penduduk. Maka tak mengherankan bahwa teknologi yang dimiliki Indonesia kalah dengan Negara lain. Oleh karena itu pemerintah perlu mengalokasikan dana lebih besar pada riset dan pembaharuan teknologi kita yang sudah using. Sehingga kita bisa bersaing dengan Negara-negara lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Madilog Sebuah Upaya Mengubah Pola Pikir Logika Mistika yang Kental Di Indonesia

  Madilog Sebuah Upaya Mengubah Pola Pikir Logika Mistika yang Kental Di Indonesia Identitas buku Judul Buku  : Madilog Penulis        : Tan Malaka Penerbit       : Penerbit Narasi Cetakan       : 5, 2016 Tebal Buku  : 568 halaman           Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka atau lebih dikenal dengan Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun. Ia adalah seorang           Karena kepandaian, Tan Malaka akhirnya mendapatkan sokongan dana untuk melanjutkan sekolah menengahnya ke Belanda. Di negeri inilah ia berpapasan dengan berbagai macam ideologi yang ada pada saat itu. Selesai pendidikannya di Eropa, ia kembali ke tanah air deng...
  Budaya dan 7 Sikap dasar di MAN Insan Cendekia Serpong                MAN Insan Cendekia serpong merupakan Madrasah Aliyah Negeri (Setara dengan SMAN) berbasis asrama. MAN Insan Cendekia serpong ini terletak di BSD City sektor XI,Jalan cendekia Ciater Kec. Serpong,Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. MAN Insan Cendekia Serpong didirikan pada tanggal 21 September 1996 atas ide dari Prof. Dr –Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. MAN Insan Cendekia Serpong didirikan dengan tujuan untuk memberdayakan sekaligus mendidik para remaja Islam agar bisa bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Pada mulanya BPPT mendirikan Magnet School, yang nantinya berubah menjadi SMU  Insan Cendekia di Serpong dan Gorontalo, dan pada tahun 2001 SMU IC ini berpindah pengelola dari BPPT ke Kementerian Agama RI lalu berganti nama menjadi MAN Insan Cendekia.             Di MAN Insan Cendeki...
Pembangunan Ekonomi : Pengertian, Ciri, Indikator   Pengertian Pembangunan Ekonomi   Pembangunan ekonomi adalah proses dimana ekonomi akan tumbuh serta menjadi lebih maju, baik dalam dimensi ekonomi maupun dalam dimensi sosial. (wijaya, 2022) Secara tradisional, pembangunan ekonomi dikukur melalui indikator GNP dan GNP per kapita. Dengan begitu fokus dari kebijakan ekonomi negara adalah memaksimalkan produksi barang dan jasa sehingga GNP meningkat, dalam perjalananya, walaupun negara berhasil mencapai target pertumbuhan ekonomi. Standar hidup masyarakat tidak ikut mengalami kenaikan dan jurang ketimpangan ekonomi semakin besar. Melihat keadaan tersebut, para ekonom merumuskan indikator baru yang lebih menekankan pada penigkatan standar hidup masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan ekonomi. Salah satu alat ukur baru tersebut adalah indeks pembangunan manusia, yang didalamnya sudah tercantum angka harapan hidup, harapan lama sekolah, dan GNP per kapi...