Mereka Yang Saling Mengendarai
Azza Mumtaza
Di
atas aspal yang panas itu, seorang bertubuh kecil berjalan ringkih tanpa alas
kaki. Namanya Burhan, umurnya baru 10 tahun, setidaknya itulah yang dikatakan
para penghuni panti lainnya, dia sendiri tidak tahu kapan dia lahir maupun siapa
orang tua kandungnya. Dia kurus kering, seakan-akan jika angin bertiup dia akan
ikut terbawa. Dengan kaos kumuh warna merah dan sebuah ukulele usang yang
senarnya tinggal tiga dia terus berjalan melewati mobil mobil besar yang tengah
berhenti karena macet.
Tiiiiiiiiiiiiiin, tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin
Maju woiiii majuu
Suara
klakson bersaut-sautan seperti hendak memecahkan gendang telinga. Disanalah dia
mulai bernyanyi, dengan suaranya yang parau dan tidak enak didengar, dia mencoba
memecah kebisingan lalu-lintas demi secercah koin. Kali ini dia benar-benar
harus mendapatkanya, setidaknya 15.000 rupiah. Pikiranya kalut membayangkan apa
yang terjadi, sampai sekarang memar di punggungnya masih terasa. Dengan
pikirannya yang kacau itu, dia terus bernyanyi, mengharapkan belas kasih.
“Woi,
lu kalo gak bisa nyanyi diem aja dahh!, berisik tau gak!!!”
Seru
seorang pengemudi truk kepadanya.
“Nih-nih
gua kasih uang pergi sono”
Dia
berseru seraya melemparkan 2 keping koin lima ratusan ke aspal. Burhanpun
segera memungutnya dari aspal yang panas.
“Makasih
bang”
Seru
Burhan dengan nada datar dan suara yang pelan. Lalu dia beranjak pergi dari
sana sambil menahan rasa kesal dalam hatinya.
Emangnya dia gak bisa ngasih baik-baik ya?
Begitu
pikirnya. Dia terus berjalan. Di siang hari yang terik ini sebenarnya dia
sangat haus, namun dia baru punya 1.000 rupiah yang perlu dia setorkan ke “bapak”
nanti, atau memar di punggunya akan bertambah.
Dia
ingat, dulu sempat terjadi hujan yang sangat lebat, hingga jalan-jalan terendam
banjir. Tentu saja mereka tidak bisa keluar untuk mengamen, namun sialnya bapak
datang ke panti dan menagih uang minumnya. Tentu saja mereka tidak punya.
Alhasil mereka semua dipukuli. Esok paginya mereka harus tetap memaksakan diri
meski tubuh mereka dipenuhi lebam, bukanya mereka tidak mau kabur. Tapi
dimanapun mereka pergi entah mengapa bapak selalu menemukan mereka. Tentu saja
bocah yang kabur mendapatkan siksaan lebih berat darinya. Sehingga tidak ada
lagi anak yang berani kabur karena mereka tau itu tidak ada gunanya, kabur sama
dengan mendapatkan siksaan yang berat.
Dia
akhirnya berhenti di sebuah warung makan. Dia mulai bernyanyi di sana sambil
melihat berita di televisi yang terpasang di dinding warung itu. Itu adalah
kelebihan yang bocah ini miliki. Dia jenius, otaknya sendiri bisa multitasking.
Dia bisa melakukan sesuatu secara bersamaan dengan hal lainya.
Saudara, malam tadi terjadi peristiwa
penusukan terhadap salah satu calon presiden. Penusukan terjadi segera setelah calon
presiden turun dari mimbar kampanyenya. Diduga pelaku adalah ekstrimis gerakan kanan
bla bla bla……
“Nih,
Dek Burhan uangnya sama ini ada es teh”
Seruan
ibu-ibu berbadan besar pemilik warung itu sontak membuat burhan berhenti
bernyanyi dan mendengarkan berita. Burhan pun menerima selembar uang 2000
rupiah dan seplastik es teh dari ibu-ibu itu.
“Terimakasih
Bu”
Ucap Burhan
dengan nada yang bahagia
“Sama-sama
dek”
Balas
ibu itu.
Selagi
meminum es teh, Burhan memikirkan berita tadi. Jelas-jelas itu disengaja.
Jangan bercanda, setiap kampanye calon presiden selalu dijaga dengan ketat. Dan
hei, bagaimana bisa orang itu melewati pagar polisi bersenjata yang membuka
jalan untuk calon presiden dan menusuknya begitu saja?. Tentu saja burhan
mengetahui cara pikir itu, semakin besar suatu peristiwa, semakin besar pula
keuntungan yang didapatkan seseorang jika bertindak sebagai “korban”. Dalam hal
ini si calon presiden hendak mengumpulkan suara masyarakat, Burhan yakin beberapa
hari lagi dia akan muncul ke publik dan mengatakan bahwa dia sudah memaafkan
pelaku atau apalah itu untuk menanamkan kesan positif pada masyarakat. Lalu dia
membuat seolah-olah pelaku merupakan suruhan calon lain yang identik dengan
gerakan kanan.
Mereka menyebut orang seperti tuan calon
presiden itu apa? ah iya aku ingat, sociopath. Sudahlah biarkan politik bekerja
semau mereka.
Dengan
sedikit menyeringai Burhan berucap pada dirinya sendiri.
Lebih baik aku mulai bekerja lagi, lalu
keluar dari kehidupan menyedihkan ini.
****
Hari
sudah mulai sore, matahari mulai memerah. Dengan langkah kaki yang sudah lemas,
Burhan berjalan pulang ke panti. Itu jelas perjalanan yang melelahkan karena
letak panti sendiri “tersembunyi” dan jauh dari perumahan. Dulunya sejak era
kolonial, itu adalah sebuah pabrik pengolah jagung. Luasnya sekitar 4 hektar. Didalamnya
terdapat 3 buah bangunan utama, di bagian belakang terdapat sebuah gudang yang
menjadi tempat tidur anak-anak panti lalu disampingnya ada kantor kepala cabang
yang menjadi ruang pribadi bapak dan didepanya ada rumah produksi yang
menghadap ke gerbang depan, yang sekarang ditelantarkan, juga ada sebuah lapangan
plesteran yang mulanya difungsikan untuk menjemur jagung, namun sekarang
lapangan itu hanya berfungsi untuk tempat bapak menghukum anak-anak secara
bersama-sama. Biasanya mereka akan disuruh berkumpul di sana dan dicambuki
satu-satu atau hanya disuruh berdiri sampai tengah malam. Pabrik itu juga
dikelilingi tembok 3 meter. Diluarnya sendiri pabrik itu dikelilingi lahan
bertanah merah yang tidak subur lagi. Dulunya itu adalah kebun jagung. Kebun
itu sendiri membentang hingga 10 hektar. Hanya jalan setapaklah yang
menghubungkan pabrik itu dengan perumahan warga, lebar jalan itu hanya cukup
untuk 1 mobil. Anak-anak panti perlu berjalan hingga 5 km untuk mencapai sebuah
kota kecil yang padat tempat mereka biasa mengamen.
Burhan terus berjalan hingga
mencapai gerbang. Didepan gerbang tersebut seseorang sudah menunggunya. Orang
itu tinggi kurus, rambutnya sudah beruban, namun wajahnya masih garang, dia selalu mengenakan kalung berwarna
perak yang berbentuk seperti logo kepanduan dunia. Burhan langsung tegang.
Orang ini adalah puncak dari rasa takut mereka. Dia adalah bapak.
“Dapat
berapa?”
Seru bapak
sambil menyilangkan tanganya.
“20.000
pak”
Sahut
Burhan dengan suara yang bergetar. Dia langsung menyerahkan uang yang
disimpanya di sebuah gelas plastik sisa air mineral. Bapak langsung merebutnya.
“Kalo
lu mau makan, mau tetep hidup kerja yang bener. Udah pergi sana.”
Seru
bapak dengan nada datar dan setengah menggumam.
Burhan
pun segera pergi meninggalkannya, tak menghiraukan ucapan bapak. Dengan tangan
yang masih dingin dan bergetar, dia berjalan lurus melewati lapangan lalu
sampai di gudang yang merupakan tempat tidur mereka. Tempat itu cukup luas
untuk mereka ber-19 tidur. Tentu hanya dengan alas lantai dan beberapa tikar
yang sudah bolong-bolong. Didalam sudah ramai.
Ada apa lagi ini?
Tanya
Burhan dalam hatinya. Dia melihat saudaran sepantinya berkumpul di tengah
ruangan. Ada yang sedang tertawa, ada yang menangis ada pula yang sedang
bercerita tentang kenangan mereka di sini. Sekarang, Burhan sudah bisa menebak
apa yang terjadi.
“Oi
burhan lama amat lu, sini kumpul bareng”
Itu
adalah suara kakak tertua mereka, Arifin. Usianya sudah menginjak 15 tahun.
Burhan pun segera ikut menimbrung di tengah.
“Abang
kapan pergi? selamat ya bang”
Tanya Burhan
dengan nada datar.
“Rencananya
malam ini han, makasih”
Balas
arifin. Dia hendak diadopsi. Tentu saja burhan iri kepadanya. Diadopsi itu
seperti jalan keluar termudah dari kehidupan neraka mereka. Tentu dia tidak
bisa mengungkapkan hal itu.
Toh aku akan punya jalan sendiri.
Itulah
yang dipikirkan burhan. Jam demi jam berlalu matahari sudah benar-benar
tenggelam digantikan remang-remang bintang. Arifin sudah selesai mengemasi
barangnya. Segera suasana pesta perpisahan tersebut menjadi mengharukan.
“Sabar
dulu ya, nanti abang pasti balik, abang pasti menjemput kalian. Abang bakal
belajar sama usaha supaya nanti bisa jadi orang sukses. Terus kita bisa bareng
lagi deh”
Ucap Arifin
sambil mengusap air matanya
“Abang
janji ya?”
“Abang
pasti balik buat kita kan”
“Abang”
“Abang”
Suara
parau diiringi isak tangis terus menghiasi ruangan. Suyatno adik terkecil
mereka yang masih 4 tahun menarik-narik baju Arifin. Tidak rela kakaknya pergi
meninggalkanya. Memang arifinlah kakak yang paling dekat dengan suyatno. Arifin
kemudian memeluk Suyatno. Hendak menenangkan adiknya. Pelukan itupun diikuti
saudara-saudara yang lain. Menandakan perpisahan mereka. Bapak sudah menunggu
di depan pintu. Tak seperti biasanya, dia hanya diam. Seperti dia menghormati
salam perpisahan itu.
”Udah
ya, abang pergi dulu. Panjoel, Jarwo, Burhan jaga adik-adik kita ya, kalian
bertiga yang tertua sekarang”
“Hati-hati
ya bang”
“Selamat
jalan”
Isak
tangis masih mengiringi perpisahan itu. Bapak mengantarkan arifin menuju ke
pintu gerbang.
Selang
7 menit kemudian Suyatno mengagetkan para penghuni panti.
“Bang,
bukunya bang Arifin ketinggalan”
Dia
berlari lari sambil membawa buku tua dengan sampul cokelat yang sudah kusam
itu, lalu dia memberikan buku itu ke Burhan. Burhan tau seberapa berharganya
buku ini, bukan hanya untuk Arifin tapi juga untuk dunia. Tepat disampul buku,
terdapat tulisan nama kecil yang tertera. “Datuk Ibrahim”. Dialah pemilik
jurnal harian ini, buku ini adalah catatan yang hilang dari seorang pejuang
kemerdekaan yang menghabiskan lebih dari setengah masa hidupnya bergerilya dan menjelajah
berbagai pelosok dunia. Demi cita-cita terbesarnya yaitu kemerdekaan 100 persen
Indonesia. Pemikiran-pemikiranya tentang perjuangan sepertinya mempengaruhi Arifin.
Namun menurut Burhan sendiri, pemikiran datuk Ibrahim terlalu utopis dan tidak
bisa diterapkan di dunia ini, apalagi dimasa sekarang.
“Ayo
han kita antar, kayaknya bang Arifin masih digerbang depan”
Ucap
Jarwo yang sekarang adalah kakak tertua
“Ayo”
Sahut Burhan. Mereka langsung berlari melewati lapangan menuju ke gerbang depan,
itu sangat gelap karena tidak ada penerangan dilapangan, lampu hanya tersedia
di gudang, kantor dan gerbang depan. Jarak mereka tinggal 150 meter, burhan dan
jarwo bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di depan gerbang.
“Apa-apaan
ini!”
Seru Jarwo
dengan suara yang pelan. Dia sudah mengepalkan kedua tangannya. Burhan langsung
menarik Jarwo yang hendak membantu arifin. Jarinya menunjuk ke arah rumah
produksi yang berada di samping lapangan. Bentuknya memanjang sampai ke gerbang
depan. Mereka bisa memantau dengan lebih jelas apa yang terjadi disana.
Terlihat bapak yang ada di depan gerbang dan juga 2 orang pria botak berpakaian
hitam-hitam yang yang menutup hidung arifin dengan sebuah kain. Awalnya Arifin
melawan, namun tiba-tiba dia lemas dan kehilangan kesadaran. Burhan yakin itu
adalah kloroform, semacam obat pembius.
“Cepet
angkat! pengiriman kedua jam 1 nanti, telat sedetik aja bisa mampus kita. Lu
tau sendiri kan gimana tempramenya orang-orang Bratva?”
“Iya-iya,
udah cepet”
Burhan
dan Jarwo menggigil ketakutan mendengar percakapan itu. Burhan menutup mulut Jarwo
yang hendak berteriak.
“Diem
bang. Lu tau kan kalo lu samperin dia bukan Cuma kita yang dapet masalah, Lu
mau semua adek-adek kita kena masalah?”
“Tapi
han bapak ngejual bang Arifin!, masa kita gak ngapa-ngapain!”
Ujar Jarwo
sembari menarik kerah baju burhan.
“Emang
sekarang kita bisa apa!, lu lihat pistol di saku mereka?, kita bukan barang
yang dipesen!, gak masalah kalo kita rusak!,
udah bang jarwo, ingat adek-adek kita, mereka masih butuh kita! Bang Arifin
juga pasti mikir gitu”
Usaha Burhan
menenangkan arifin akhirnya berhasil. Sebenarnya Burhan juga kaget. Dia tidak
menyangka bapak punya koneksi terhadap mafia internasional sekelas Bratva. Dia
pernah membaca artikel dari Koran bekas yang berisi kegagalan upaya
internasional menangkap pimpinan organisasi ini. Pada akhirnya semua upaya itu
berakhir dengan “bebas tanpa syarat”.
Burhan mengira-ngira apa yang sedang terjadi, Perdagangan manusia?,
tidak, mereka adalah Bratva. ini lebih menjurus pada perdagangan organ.
Tubuh Arifin
sudah sempurna dinaikkan ke mobil panther hitam mereka, 2 pria berpakaian hitam
itu naik lalu menjalankan mobil sampai didepan gerbang. Bapak kemudian mengunci
gerbangnya dan ikut menaiki mobil tersebut.
“Sialll”
Jarwo
berteriak keras. Lalu burhan menepuk pundaknya mencoba menenangkan.
“mending
kita balik sekarang, kasih tau Panjoel situasinya tapi jangan beritau adek-adek
kita yang lain. Mereka nanti malah panik. Kita bakal coba kabur dari sini”
Mereka
akhirnya berjalan pulang. Sesampainya di gudang mereka langsung menemui Panjoel,
kakak tertua kedua mereka setelah jarwo. Saudara mereka sudah tidur semua.
Burhan langsung membangunkan dan menarik Panjoel menuju keluar. Kemudian burhan
dan jarwo menceritakan kejadian yang mereka alami tadi kepada panjoel. Tidak
seperti jarwo, Panjoel lebih tenang dalam mengatasi situasi ini.
“Jadi,
intinya Bang Arifin gak diadopsi tapi dijual sama bapak, dan kalian mau kita
kabur dari sini?”
Tanya Panjol.
“iya
tapi kita pastiin dulu kalau bapak gak bakal bisa ngelacak kita lagi, kalian
pasti tahu kemanapun kita pergi, bapak pasti bisa menemukan kita, jadi
menurutku pasti ada alat pelacak yang
memantau posisi kita semua”
Begitulah
hipotesis burhan. Tentu jarwo dan panjoel ragu dengan hipotesis tersebut. Tapi
akhirnya burhan bisa meyakinkan mereka. Alat pelacak menjadi sama sekali tidak
aneh kalau mengingat bapak punya hubungan dengan bratva.
Dia pasti menyembunyikan alat pelacak itu
disekitar pabrik ini tapi dimana?
Tiba-tiba
burhan mengingat sesuatu.
”Kalian tahu setiap
jam 1 malam sampai jam 3 malam bapak gak pernah ada di panti”
“mungkin
bapak pulang kerumahnya”
“tidak,
aku akan coba memeriksa kantor. Aku yakin pasti ada sesuatu disitu, kalian
tolong jaga biar tidak ada orang yang masuk saat aku memeriksa”
Burhan
langsung berlari lari kecil menuju kantor. Tapi sebelum masuk dia mengelilingi
bangunan itu dulu. Pikiranya langsumng menghitung keliling bangunan. Dia lalu
masuk lewat jendela yang memang berlubang. Dia kemudian mengukur panjang setiap
ruangan, dan rupanya memang ada selisih kecil antara panjang bangunan dan
panjang setiap ruang. Artinya ada satu ruangan lagi yang tersisa, tapi ruangan
apa itu?.
Burhan
kemudian masuk ke ruangan paling pojok yaitu kamar bapak. Berdasarkan perhitunganya
disanalah tempat masuk ruangan kecil itu.
Burhan
kemudian segera masuk ke dalam. Begitu masuk perhatianya langsung tertuju pada
sebuah lemari yang menutupi dinding. Dia menggeser lemari tersebut dan benar
saja terdapat sebuah pintu dibaliknya. Dengan berbekal sebuah kawat burhan
berhasil membuka pintu tersebut. Itu hanyalah ruangan kecil 1 kali 1 meter.
Namun di lantainya terdapat pintu lagi yang akan mengarah kebawah. Ini tidak
seperti pintu tadi. Yang ini benar-benar perlu kunci khusus untuk membukanya.
Bukanya pola ini adalah pola kalung yang
biasa dipakai bapak?, kalung itu sama sekali tidak seperti kunci.
Sial
kita tidak bisa kabur dari tempat ini sebelum mendapatkan kalung itu dari
bapak. Ada satu hal lagi yang menarik perhatian burhan yaitu sedikit serbuk hitam
yang ada di lantai. Dia mencoleknya.
Hei apa lagi ini? Bagaimana serbuk hitam
ini ada di sini?
Itu
adalah bubuk mesiu tipe high explosive. Sekarang burhan sadar, ini bukan pabrik
pengolahan jagung. Jagung tidak pernah menjadi komoditas produksi utama. Itu
hanyalah alasan untuk mengekstrak dextrin dari pati jagung untuk membuat high
explosive mesiu, yang jika terkena percikan api sedikit saja akan merambat
kemudian meledak. Entah apa alasanya, yang paling mungkin adalah untuk
menghindari perizinan dan pajak. Yang
jelas didalam sana akan ada beberapa ton bubuk mesiu yang disimpan sejak era
kolonial. Penimbunan ya?, itulah yang dipikirkan burhan.
Burhan
langsung membereskan kamar itu. Memastikan tidak ada lagi jejaknya yang tersisa
disini. Dia kemudian menghampiri jarwo dan panjoel yang menunggunya di depan
jendela. Sambil berjalan menuju gudang, burhan memberikan laporanya
“dengar
perkiraanku benar, didalam ada ruangan rahasia, aku yakin disitulah tempat alat pelacak itu
disembunyikan, tapi untuk masuk kita butuh kalung pramuka dunia bapak. Ini
mungkin rencana yang gila, tapi kita harus mendapatkannya. Kita akan kabur 2
hari lagi. besok hari sabtu bukan?, itu saat yang tepat untuk mencuri kalung
itu, seperti biasa pasti dia akan mabuk-mabukan. Lalu kumpulkan juga boks kayu
besar yang ada di rumah produksi kita akan menjadikanya pijakan untuk memanjat
dinding, besok sore kita beritahu anak anak lain tentang rencana ini, .”
Jelas
burhan secara panjang lebar. jarwo dan panjoel hanya bisa mangut mangut tanda
mereka setuju dengan rencana burhan.
****
Sore
segera tiba, jarwo mengumpulkan semua penghuni panti di tengah gudang. Dia
berbicara tentang apa yang dia alami dan apa rencana mereka untuk kabur dari
sini. Suasana langsung hening saat jarwo mulai berbicara. Namun keheningan itu
dipecahkan oleh tangisan suyatno, adik terkecil mereka. Dia masih tidak percaya
bahwa bang arifinnya tidakakan kembali lagi. sementara itu burhan sedang sibuk
dengan perhitunganya sendiri.
“usaha,
energi, hasil?, ini apaan dah, tulisan motivasi. Tenang aja han kita pasti
berusaha maksimal dengan energi kita kok”
Ujar
panjoel yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa tentang yang dikerjakan burhan.
Sebenarnya disini tidak ada yang tau bagaimana pola pikir burhan. Mereka hanya
memberikanya kepercayaan.
Namun
rencana hanyalah rencana, ada pengkhianat diantara mereka. tiba-tiba bapak
datang dengan muka yang merah padam.
“siapa
yang kasih tau kalian hah, sekarang lu semua mau kabur!, enak aja. Bocah
(sensor), (sensor) lu pada. Kalian cuman stok nyawa cadangan doang mau
banyak…(sensor)”
Sebelum
bapak meneruskan perkataanya panjoel langsung menyeruduknya. Mereka telah
membuat keputusan untuk lari sekarang daripada menunggu kematian. Jarwo pun
ikut menghadang bapak. Tentu itu tidak berpengaruh banyak, karena memang bukan
itu tujuan mereka. Panjoel hanya pancingan untuk jarwo merebut kalung bapak.
Panjoel langsung dibanting begitu juga jarwo. Tetapi mereka mendapatkan
kuncinya. Jarwo langsung melemparkanya ke burhan.
“cepet
lari lewat pintu belakang”
Teriak
panjoel memimpin saudaranya yang lain. Bapak mencoba mengejar mereka. Tapi
jarwo malah menarik kakinya.
“BOCAH
(SENSOR), LEPASIN!”
Jarwo
sama sekali tak menggubrisnya. Alhasil bapak menginjak tangan dan menendang
kepala jarwo. Dia sudah tidak segan lagi mematahkan kaki dan tangan anak-anak
ini.
Sementara
itu burhan langsung lari melewati bapak dan jarwo, dia mencoba keluar dari
pintu depan dan langsung menuju kantor bapak. dia hendak memasuki ruangan
rahasia itu. Tak butuh banyak usaha dia berhasil membuka semua kunci. Dia
kemudian masuk menuruni tangga yang ada di balik lantai ruangan itu. Dia sudah
tidak kaget lagi dengan pemandangan yang ada didepanya. ada banyak tong
berisikan bubuk mesiu. Kira kira beratnya sampai setengah ton. 3 tingkat
berjajar rapi di dinding. Itu semua sudah dia perhitungkan. Di pojok ruangan
benda yang dia cari cari akhirnya ketemu. Benda itu berbentuk seperti tabung
computer lawas yang menunjukan semua lokasi mereka.
Baiklah, akan ku hancurkan hardware
sekaligus softwarenya lalu aku akan keluar dari tempat ini.
“cepat
kesini semuanya”
Ucap
panjoel memimpin. Mereka tidak bisa lewat pintu belakang sesuai rencana, sepertinya
ada yng sudah menutupnya dari luar sebelum bapak datang. Rupanya burhan sudah
mendahului mereka. Dia sudah di atas tembok barat. Melambai-lambai pada saudara
saudaranya. Panjoel dan yang lain berlari sekencang kencangnya menghindari
bapak.
DOR!!!,
DOR!!!,DOR!!!
Suara
letusan tembak menggelegar. Satu persaru anak panti berjatuhan terkena tembakan
dikakinya. Darah berceceran dimana-mana. Itu adalah bapak, dia benar-benar tak
segan menghancurkan kaki mereka.
“TIARAPP
ATAU KUBUNUH SAUDARA KALIAN, BOCAH (SENSOR). KALIAN HANYALAH BARANG
SAMPINGAN!!”
DOR!!!
DOR!!!
Bapak
menghancurkan 2 kaki anak yang ada di depanya. Semua anak reflex berhenti.
Mereka semua tiarap demi keselamatan saudaranya. Bapak mengarahkan moncong
pistolnya ke burhan yang masih berada di atas tembok.
”APALAGI
YANG KAU RENCANAKAN HUH, BERANINYA KAU MENGANCAMKU! AKU TIDAK PERNAH SAMA
DENGAN KALIAN, AKULAH YANG BERTAHAN SAMPAI AKHIR”
Bapak
jelas sedang benar-benar marah.
”dengan
mengorbankan saudara-saudaramu bukan?”
Sahut
burhan
“MEMANGNYA
KENAPA BOCAH (SENSOR), KAU JUGA…”
Belum
sempat bapak menyelesaikan omonganya, tiba tiba suara gemuruh disertai ledakan
yang sangat besar terjadi. Ledakan itu menyapu bersih bangunan bangunan di
sekitarnya dan menerbangkan berbagai material. Lalapan api sampai kea rah
panjoel, bapak dan anak1anak panti lainya, badan mereka seketika terbakar,
ditambah puing-puing bangunan yang menghujani tubuh mereka. Burhan yang berada
di atas tembok terpental 5 meter dan mendarat di ladang jagung. Dia pingsan
seketika.
“nak,
nak apa kau msih bisa mendengarku?, hoi masih ada 1 orang yang selamattt kirim
bantuan medis segera.”
Samar
samar burhan masih bisa mendengar suara itu. Dia masih hidup dan masih siap
menjalani hidup.
****
”nak
kau ingin kado lebaran?”
Ucap
pria paruh baya berpakaian putih putih itu kepadanya. Hening, lagi lagi tidak
ada jawaban.
“mohon
maaf dokter, tapi tuan calon presiden ingin menemui anak itu”
Kata
wanita yang juga berpakaian putih putih.
“bukankah
sudah ku bilang, tolak dia. Pasienku bukan alat politik. Kau lihat sendiri kan,
dia masih mengalami aphasia jangka pendek, dia masih shock. Selama burhan
didalam pengawasanku . aku tidak akan membiarkanya menjadi kendaraan
politik."
Dia
sama sekali tidak tertarik pada pertengkaran itu, dia masih terpaku dengan
rubik 3 kali 3 nya. Setelah itu dia hanya memandang tembok dengan tatapan
kosong dan bibir sedikit tersenyum.
Inilah manusia, mereka adalah benalu yang
menempel kepada benalu lainya. Itu semua hanya tentang mengendarai atau
dikendarai.
Komentar
Posting Komentar