Langsung ke konten utama

 Mereka Yang Saling Mengendarai

Azza Mumtaza

 

Di atas aspal yang panas itu, seorang bertubuh kecil berjalan ringkih tanpa alas kaki. Namanya Burhan, umurnya baru 10 tahun, setidaknya itulah yang dikatakan para penghuni panti lainnya, dia sendiri tidak tahu kapan dia lahir maupun siapa orang tua kandungnya. Dia kurus kering, seakan-akan jika angin bertiup dia akan ikut terbawa. Dengan kaos kumuh warna merah dan sebuah ukulele usang yang senarnya tinggal tiga dia terus berjalan melewati mobil mobil besar yang tengah berhenti karena macet.

Tiiiiiiiiiiiiiin, tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin

Maju woiiii majuu

Suara klakson bersaut-sautan seperti hendak memecahkan gendang telinga. Disanalah dia mulai bernyanyi, dengan suaranya yang parau dan tidak enak didengar, dia mencoba memecah kebisingan lalu-lintas demi secercah koin. Kali ini dia benar-benar harus mendapatkanya, setidaknya 15.000 rupiah. Pikiranya kalut membayangkan apa yang terjadi, sampai sekarang memar di punggungnya masih terasa. Dengan pikirannya yang kacau itu, dia terus bernyanyi, mengharapkan belas kasih.

“Woi, lu kalo gak bisa nyanyi diem aja dahh!, berisik tau gak!!!”

Seru seorang pengemudi truk kepadanya.

“Nih-nih gua kasih uang pergi sono”

Dia berseru seraya melemparkan 2 keping koin lima ratusan ke aspal. Burhanpun segera memungutnya dari aspal yang panas.  

“Makasih bang”

Seru Burhan dengan nada datar dan suara yang pelan. Lalu dia beranjak pergi dari sana sambil menahan rasa kesal dalam hatinya.

Emangnya dia gak bisa ngasih baik-baik ya?

Begitu pikirnya. Dia terus berjalan. Di siang hari yang terik ini sebenarnya dia sangat haus, namun dia baru punya 1.000 rupiah yang perlu dia setorkan ke “bapak” nanti, atau memar di punggunya akan bertambah.

Dia ingat, dulu sempat terjadi hujan yang sangat lebat, hingga jalan-jalan terendam banjir. Tentu saja mereka tidak bisa keluar untuk mengamen, namun sialnya bapak datang ke panti dan menagih uang minumnya. Tentu saja mereka tidak punya. Alhasil mereka semua dipukuli. Esok paginya mereka harus tetap memaksakan diri meski tubuh mereka dipenuhi lebam, bukanya mereka tidak mau kabur. Tapi dimanapun mereka pergi entah mengapa bapak selalu menemukan mereka. Tentu saja bocah yang kabur mendapatkan siksaan lebih berat darinya. Sehingga tidak ada lagi anak yang berani kabur karena mereka tau itu tidak ada gunanya, kabur sama dengan mendapatkan siksaan yang berat.

Dia akhirnya berhenti di sebuah warung makan. Dia mulai bernyanyi di sana sambil melihat berita di televisi yang terpasang di dinding warung itu. Itu adalah kelebihan yang bocah ini miliki. Dia jenius, otaknya sendiri bisa multitasking. Dia bisa melakukan sesuatu secara bersamaan dengan hal lainya.

Saudara, malam tadi terjadi peristiwa penusukan terhadap salah satu calon presiden. Penusukan terjadi segera setelah calon presiden turun dari mimbar kampanyenya. Diduga pelaku adalah ekstrimis gerakan kanan bla bla bla……

“Nih, Dek Burhan uangnya sama ini ada es teh”

Seruan ibu-ibu berbadan besar pemilik warung itu sontak membuat burhan berhenti bernyanyi dan mendengarkan berita. Burhan pun menerima selembar uang 2000 rupiah dan seplastik es teh dari ibu-ibu itu.

“Terimakasih Bu”

Ucap Burhan dengan nada yang bahagia

“Sama-sama dek”

Balas ibu itu.

Selagi meminum es teh, Burhan memikirkan berita tadi. Jelas-jelas itu disengaja. Jangan bercanda, setiap kampanye calon presiden selalu dijaga dengan ketat. Dan hei, bagaimana bisa orang itu melewati pagar polisi bersenjata yang membuka jalan untuk calon presiden dan menusuknya begitu saja?. Tentu saja burhan mengetahui cara pikir itu, semakin besar suatu peristiwa, semakin besar pula keuntungan yang didapatkan seseorang jika bertindak sebagai “korban”. Dalam hal ini si calon presiden hendak mengumpulkan suara masyarakat, Burhan yakin beberapa hari lagi dia akan muncul ke publik dan mengatakan bahwa dia sudah memaafkan pelaku atau apalah itu untuk menanamkan kesan positif pada masyarakat. Lalu dia membuat seolah-olah pelaku merupakan suruhan calon lain yang identik dengan gerakan kanan.

Mereka menyebut orang seperti tuan calon presiden itu apa? ah iya aku ingat, sociopath. Sudahlah biarkan politik bekerja semau mereka. 

Dengan sedikit menyeringai Burhan berucap pada dirinya sendiri.

Lebih baik aku mulai bekerja lagi, lalu keluar dari kehidupan menyedihkan ini.

****

Hari sudah mulai sore, matahari mulai memerah. Dengan langkah kaki yang sudah lemas, Burhan berjalan pulang ke panti. Itu jelas perjalanan yang melelahkan karena letak panti sendiri “tersembunyi” dan jauh dari perumahan. Dulunya sejak era kolonial, itu adalah sebuah pabrik pengolah jagung. Luasnya sekitar 4 hektar. Didalamnya terdapat 3 buah bangunan utama, di bagian belakang terdapat sebuah gudang yang menjadi tempat tidur anak-anak panti lalu disampingnya ada kantor kepala cabang yang menjadi ruang pribadi bapak dan didepanya ada rumah produksi yang menghadap ke gerbang depan, yang sekarang ditelantarkan, juga ada sebuah lapangan plesteran yang mulanya difungsikan untuk menjemur jagung, namun sekarang lapangan itu hanya berfungsi untuk tempat bapak menghukum anak-anak secara bersama-sama. Biasanya mereka akan disuruh berkumpul di sana dan dicambuki satu-satu atau hanya disuruh berdiri sampai tengah malam. Pabrik itu juga dikelilingi tembok 3 meter. Diluarnya sendiri pabrik itu dikelilingi lahan bertanah merah yang tidak subur lagi. Dulunya itu adalah kebun jagung. Kebun itu sendiri membentang hingga 10 hektar. Hanya jalan setapaklah yang menghubungkan pabrik itu dengan perumahan warga, lebar jalan itu hanya cukup untuk 1 mobil. Anak-anak panti perlu berjalan hingga 5 km untuk mencapai sebuah kota kecil yang padat tempat mereka biasa mengamen.

            Burhan terus berjalan hingga mencapai gerbang. Didepan gerbang tersebut seseorang sudah menunggunya. Orang itu tinggi kurus, rambutnya sudah beruban, namun wajahnya masih  garang, dia selalu mengenakan kalung berwarna perak yang berbentuk seperti logo kepanduan dunia. Burhan langsung tegang. Orang ini adalah puncak dari rasa takut mereka. Dia adalah bapak.

“Dapat berapa?”

Seru bapak sambil menyilangkan tanganya.

“20.000 pak”

Sahut Burhan dengan suara yang bergetar. Dia langsung menyerahkan uang yang disimpanya di sebuah gelas plastik sisa air mineral. Bapak langsung merebutnya.

“Kalo lu mau makan, mau tetep hidup kerja yang bener. Udah pergi sana.”

Seru bapak dengan nada datar dan setengah menggumam.

Burhan pun segera pergi meninggalkannya, tak menghiraukan ucapan bapak. Dengan tangan yang masih dingin dan bergetar, dia berjalan lurus melewati lapangan lalu sampai di gudang yang merupakan tempat tidur mereka. Tempat itu cukup luas untuk mereka ber-19 tidur. Tentu hanya dengan alas lantai dan beberapa tikar yang sudah bolong-bolong. Didalam sudah ramai.

Ada apa lagi ini?

Tanya Burhan dalam hatinya. Dia melihat saudaran sepantinya berkumpul di tengah ruangan. Ada yang sedang tertawa, ada yang menangis ada pula yang sedang bercerita tentang kenangan mereka di sini. Sekarang, Burhan sudah bisa menebak apa yang terjadi.

“Oi burhan lama amat lu, sini kumpul bareng”

Itu adalah suara kakak tertua mereka, Arifin. Usianya sudah menginjak 15 tahun. Burhan pun segera ikut menimbrung di tengah.

“Abang kapan pergi? selamat ya bang”

Tanya Burhan dengan nada datar.

“Rencananya malam ini han, makasih”

Balas arifin. Dia hendak diadopsi. Tentu saja burhan iri kepadanya. Diadopsi itu seperti jalan keluar termudah dari kehidupan neraka mereka. Tentu dia tidak bisa mengungkapkan hal itu.

Toh aku akan punya jalan sendiri.

Itulah yang dipikirkan burhan. Jam demi jam berlalu matahari sudah benar-benar tenggelam digantikan remang-remang bintang. Arifin sudah selesai mengemasi barangnya. Segera suasana pesta perpisahan tersebut menjadi mengharukan.

“Sabar dulu ya, nanti abang pasti balik, abang pasti menjemput kalian. Abang bakal belajar sama usaha supaya nanti bisa jadi orang sukses. Terus kita bisa bareng lagi deh” 

Ucap Arifin sambil mengusap air matanya

“Abang janji ya?”

“Abang pasti balik buat kita kan”

“Abang”

“Abang”

Suara parau diiringi isak tangis terus menghiasi ruangan. Suyatno adik terkecil mereka yang masih 4 tahun menarik-narik baju Arifin. Tidak rela kakaknya pergi meninggalkanya. Memang arifinlah kakak yang paling dekat dengan suyatno. Arifin kemudian memeluk Suyatno. Hendak menenangkan adiknya. Pelukan itupun diikuti saudara-saudara yang lain. Menandakan perpisahan mereka. Bapak sudah menunggu di depan pintu. Tak seperti biasanya, dia hanya diam. Seperti dia menghormati salam perpisahan itu.

”Udah ya, abang pergi dulu. Panjoel, Jarwo, Burhan jaga adik-adik kita ya, kalian bertiga yang tertua sekarang”

“Hati-hati ya bang”

“Selamat jalan”

Isak tangis masih mengiringi perpisahan itu. Bapak mengantarkan arifin menuju ke pintu gerbang.

Selang 7 menit kemudian Suyatno mengagetkan para penghuni panti.

“Bang, bukunya bang Arifin ketinggalan”

Dia berlari lari sambil membawa buku tua dengan sampul cokelat yang sudah kusam itu, lalu dia memberikan buku itu ke Burhan. Burhan tau seberapa berharganya buku ini, bukan hanya untuk Arifin tapi juga untuk dunia. Tepat disampul buku, terdapat tulisan nama kecil yang tertera. “Datuk Ibrahim”. Dialah pemilik jurnal harian ini, buku ini adalah catatan yang hilang dari seorang pejuang kemerdekaan yang menghabiskan lebih dari setengah masa hidupnya bergerilya dan menjelajah berbagai pelosok dunia. Demi cita-cita terbesarnya yaitu kemerdekaan 100 persen Indonesia. Pemikiran-pemikiranya tentang perjuangan sepertinya mempengaruhi Arifin. Namun menurut Burhan sendiri, pemikiran datuk Ibrahim terlalu utopis dan tidak bisa diterapkan di dunia ini, apalagi dimasa sekarang.

“Ayo han kita antar, kayaknya bang Arifin masih digerbang depan”

Ucap Jarwo yang sekarang adalah kakak tertua

“Ayo”
Sahut Burhan. Mereka langsung berlari melewati lapangan menuju ke gerbang depan, itu sangat gelap karena tidak ada penerangan dilapangan, lampu hanya tersedia di gudang, kantor dan gerbang depan. Jarak mereka tinggal 150 meter, burhan dan jarwo bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di depan gerbang.

“Apa-apaan ini!”

Seru Jarwo dengan suara yang pelan. Dia sudah mengepalkan kedua tangannya. Burhan langsung menarik Jarwo yang hendak membantu arifin. Jarinya menunjuk ke arah rumah produksi yang berada di samping lapangan. Bentuknya memanjang sampai ke gerbang depan. Mereka bisa memantau dengan lebih jelas apa yang terjadi disana. Terlihat bapak yang ada di depan gerbang dan juga 2 orang pria botak berpakaian hitam-hitam yang yang menutup hidung arifin dengan sebuah kain. Awalnya Arifin melawan, namun tiba-tiba dia lemas dan kehilangan kesadaran. Burhan yakin itu adalah kloroform, semacam obat pembius.

“Cepet angkat! pengiriman kedua jam 1 nanti, telat sedetik aja bisa mampus kita. Lu tau sendiri kan gimana tempramenya orang-orang Bratva?”

“Iya-iya, udah cepet”

Burhan dan Jarwo menggigil ketakutan mendengar percakapan itu. Burhan menutup mulut Jarwo yang hendak berteriak.

“Diem bang. Lu tau kan kalo lu samperin dia bukan Cuma kita yang dapet masalah, Lu mau semua adek-adek kita kena masalah?”

“Tapi han bapak ngejual bang Arifin!, masa kita gak ngapa-ngapain!”

Ujar Jarwo sembari menarik kerah baju burhan.

“Emang sekarang kita bisa apa!, lu lihat pistol di saku mereka?, kita bukan barang yang dipesen!, gak masalah kalo kita rusak!,  udah bang jarwo, ingat adek-adek kita, mereka masih butuh kita! Bang Arifin juga pasti mikir gitu”

Usaha Burhan menenangkan arifin akhirnya berhasil. Sebenarnya Burhan juga kaget. Dia tidak menyangka bapak punya koneksi terhadap mafia internasional sekelas Bratva. Dia pernah membaca artikel dari Koran bekas yang berisi kegagalan upaya internasional menangkap pimpinan organisasi ini. Pada akhirnya semua upaya itu berakhir dengan “bebas tanpa syarat”.  Burhan mengira-ngira apa yang sedang terjadi, Perdagangan manusia?, tidak, mereka adalah Bratva. ini lebih menjurus pada perdagangan organ.

Tubuh Arifin sudah sempurna dinaikkan ke mobil panther hitam mereka, 2 pria berpakaian hitam itu naik lalu menjalankan mobil sampai didepan gerbang. Bapak kemudian mengunci gerbangnya dan ikut menaiki mobil tersebut.

“Sialll”

Jarwo berteriak keras. Lalu burhan menepuk pundaknya mencoba menenangkan.

“mending kita balik sekarang, kasih tau Panjoel situasinya tapi jangan beritau adek-adek kita yang lain. Mereka nanti malah panik. Kita bakal coba kabur dari sini”

Mereka akhirnya berjalan pulang. Sesampainya di gudang mereka langsung menemui Panjoel, kakak tertua kedua mereka setelah jarwo. Saudara mereka sudah tidur semua. Burhan langsung membangunkan dan menarik Panjoel menuju keluar. Kemudian burhan dan jarwo menceritakan kejadian yang mereka alami tadi kepada panjoel. Tidak seperti jarwo, Panjoel lebih tenang dalam mengatasi situasi ini.

“Jadi, intinya Bang Arifin gak diadopsi tapi dijual sama bapak, dan kalian mau kita kabur dari sini?”

Tanya Panjol.

“iya tapi kita pastiin dulu kalau bapak gak bakal bisa ngelacak kita lagi, kalian pasti tahu kemanapun kita pergi, bapak pasti bisa menemukan kita, jadi menurutku pasti ada alat pelacak  yang memantau posisi kita semua”

Begitulah hipotesis burhan. Tentu jarwo dan panjoel ragu dengan hipotesis tersebut. Tapi akhirnya burhan bisa meyakinkan mereka. Alat pelacak menjadi sama sekali tidak aneh kalau mengingat bapak punya hubungan dengan bratva.

Dia pasti menyembunyikan alat pelacak itu disekitar pabrik ini tapi dimana?

Tiba-tiba burhan mengingat sesuatu.

Kalian tahu setiap jam 1 malam sampai jam 3 malam bapak gak pernah ada di panti”

“mungkin bapak pulang kerumahnya”

“tidak, aku akan coba memeriksa kantor. Aku yakin pasti ada sesuatu disitu, kalian tolong jaga biar tidak ada orang yang masuk saat aku memeriksa”

Burhan langsung berlari lari kecil menuju kantor. Tapi sebelum masuk dia mengelilingi bangunan itu dulu. Pikiranya langsumng menghitung keliling bangunan. Dia lalu masuk lewat jendela yang memang berlubang. Dia kemudian mengukur panjang setiap ruangan, dan rupanya memang ada selisih kecil antara panjang bangunan dan panjang setiap ruang. Artinya ada satu ruangan lagi yang tersisa, tapi ruangan apa itu?.

Burhan kemudian masuk ke ruangan paling pojok yaitu kamar bapak. Berdasarkan perhitunganya disanalah tempat masuk ruangan kecil itu.

Burhan kemudian segera masuk ke dalam. Begitu masuk perhatianya langsung tertuju pada sebuah lemari yang menutupi dinding. Dia menggeser lemari tersebut dan benar saja terdapat sebuah pintu dibaliknya. Dengan berbekal sebuah kawat burhan berhasil membuka pintu tersebut. Itu hanyalah ruangan kecil 1 kali 1 meter. Namun di lantainya terdapat pintu lagi yang akan mengarah kebawah. Ini tidak seperti pintu tadi. Yang ini benar-benar perlu kunci khusus untuk membukanya.

Bukanya pola ini adalah pola kalung yang biasa dipakai bapak?, kalung itu sama sekali tidak seperti kunci.

Sial kita tidak bisa kabur dari tempat ini sebelum mendapatkan kalung itu dari bapak. Ada satu hal lagi yang menarik perhatian burhan yaitu sedikit serbuk hitam yang ada di lantai. Dia mencoleknya.

Hei apa lagi ini? Bagaimana serbuk hitam ini ada di sini?

Itu adalah bubuk mesiu tipe high explosive. Sekarang burhan sadar, ini bukan pabrik pengolahan jagung. Jagung tidak pernah menjadi komoditas produksi utama. Itu hanyalah alasan untuk mengekstrak dextrin dari pati jagung untuk membuat high explosive mesiu, yang jika terkena percikan api sedikit saja akan merambat kemudian meledak. Entah apa alasanya, yang paling mungkin adalah untuk menghindari perizinan dan pajak.  Yang jelas didalam sana akan ada beberapa ton bubuk mesiu yang disimpan sejak era kolonial. Penimbunan ya?, itulah yang dipikirkan burhan.

Burhan langsung membereskan kamar itu. Memastikan tidak ada lagi jejaknya yang tersisa disini. Dia kemudian menghampiri jarwo dan panjoel yang menunggunya di depan jendela. Sambil berjalan menuju gudang, burhan memberikan laporanya

“dengar perkiraanku benar, didalam ada ruangan rahasia, aku  yakin disitulah tempat alat pelacak itu disembunyikan, tapi untuk masuk kita butuh kalung pramuka dunia bapak. Ini mungkin rencana yang gila, tapi kita harus mendapatkannya. Kita akan kabur 2 hari lagi. besok hari sabtu bukan?, itu saat yang tepat untuk mencuri kalung itu, seperti biasa pasti dia akan mabuk-mabukan. Lalu kumpulkan juga boks kayu besar yang ada di rumah produksi kita akan menjadikanya pijakan untuk memanjat dinding, besok sore kita beritahu anak anak lain tentang rencana ini, .”

Jelas burhan secara panjang lebar. jarwo dan panjoel hanya bisa mangut mangut tanda mereka setuju dengan rencana burhan.

****

Sore segera tiba, jarwo mengumpulkan semua penghuni panti di tengah gudang. Dia berbicara tentang apa yang dia alami dan apa rencana mereka untuk kabur dari sini. Suasana langsung hening saat jarwo mulai berbicara. Namun keheningan itu dipecahkan oleh tangisan suyatno, adik terkecil mereka. Dia masih tidak percaya bahwa bang arifinnya tidakakan kembali lagi. sementara itu burhan sedang sibuk dengan perhitunganya sendiri.

“usaha, energi, hasil?, ini apaan dah, tulisan motivasi. Tenang aja han kita pasti berusaha maksimal dengan energi kita kok”

Ujar panjoel yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa tentang yang dikerjakan burhan. Sebenarnya disini tidak ada yang tau bagaimana pola pikir burhan. Mereka hanya memberikanya kepercayaan.

Namun rencana hanyalah rencana, ada pengkhianat diantara mereka. tiba-tiba bapak datang dengan muka yang merah padam.

“siapa yang kasih tau kalian hah, sekarang lu semua mau kabur!, enak aja. Bocah (sensor), (sensor) lu pada. Kalian cuman stok nyawa cadangan doang mau banyak…(sensor)”

Sebelum bapak meneruskan perkataanya panjoel langsung menyeruduknya. Mereka telah membuat keputusan untuk lari sekarang daripada menunggu kematian. Jarwo pun ikut menghadang bapak. Tentu itu tidak berpengaruh banyak, karena memang bukan itu tujuan mereka. Panjoel hanya pancingan untuk jarwo merebut kalung bapak. Panjoel langsung dibanting begitu juga jarwo. Tetapi mereka mendapatkan kuncinya. Jarwo langsung melemparkanya ke burhan.

“cepet lari lewat pintu belakang”

Teriak panjoel memimpin saudaranya yang lain. Bapak mencoba mengejar mereka. Tapi jarwo malah menarik kakinya.

“BOCAH (SENSOR), LEPASIN!”

Jarwo sama sekali tak menggubrisnya. Alhasil bapak menginjak tangan dan menendang kepala jarwo. Dia sudah tidak segan lagi mematahkan kaki dan tangan anak-anak ini.

Sementara itu burhan langsung lari melewati bapak dan jarwo, dia mencoba keluar dari pintu depan dan langsung menuju kantor bapak. dia hendak memasuki ruangan rahasia itu. Tak butuh banyak usaha dia berhasil membuka semua kunci. Dia kemudian masuk menuruni tangga yang ada di balik lantai ruangan itu. Dia sudah tidak kaget lagi dengan pemandangan yang ada didepanya. ada banyak tong berisikan bubuk mesiu. Kira kira beratnya sampai setengah ton. 3 tingkat berjajar rapi di dinding. Itu semua sudah dia perhitungkan. Di pojok ruangan benda yang dia cari cari akhirnya ketemu. Benda itu berbentuk seperti tabung computer lawas yang menunjukan semua lokasi mereka.

Baiklah, akan ku hancurkan hardware sekaligus softwarenya lalu aku akan keluar dari tempat ini.

“cepat kesini semuanya”

Ucap panjoel memimpin. Mereka tidak bisa lewat pintu belakang sesuai rencana, sepertinya ada yng sudah menutupnya dari luar sebelum bapak datang. Rupanya burhan sudah mendahului mereka. Dia sudah di atas tembok barat. Melambai-lambai pada saudara saudaranya. Panjoel dan yang lain berlari sekencang kencangnya menghindari bapak.

DOR!!!, DOR!!!,DOR!!!

Suara letusan tembak menggelegar. Satu persaru anak panti berjatuhan terkena tembakan dikakinya. Darah berceceran dimana-mana. Itu adalah bapak, dia benar-benar tak segan menghancurkan kaki mereka.

“TIARAPP ATAU KUBUNUH SAUDARA KALIAN, BOCAH (SENSOR). KALIAN HANYALAH BARANG SAMPINGAN!!”

DOR!!! DOR!!!

Bapak menghancurkan 2 kaki anak yang ada di depanya. Semua anak reflex berhenti. Mereka semua tiarap demi keselamatan saudaranya. Bapak mengarahkan moncong pistolnya ke burhan yang masih berada di atas tembok.

”APALAGI YANG KAU RENCANAKAN HUH, BERANINYA KAU MENGANCAMKU! AKU TIDAK PERNAH SAMA DENGAN KALIAN, AKULAH YANG BERTAHAN SAMPAI AKHIR”

Bapak jelas sedang benar-benar marah.

”dengan mengorbankan saudara-saudaramu bukan?”

Sahut burhan

“MEMANGNYA KENAPA BOCAH (SENSOR), KAU JUGA…”

Belum sempat bapak menyelesaikan omonganya, tiba tiba suara gemuruh disertai ledakan yang sangat besar terjadi. Ledakan itu menyapu bersih bangunan bangunan di sekitarnya dan menerbangkan berbagai material. Lalapan api sampai kea rah panjoel, bapak dan anak1anak panti lainya, badan mereka seketika terbakar, ditambah puing-puing bangunan yang menghujani tubuh mereka. Burhan yang berada di atas tembok terpental 5 meter dan mendarat di ladang jagung. Dia pingsan seketika.

“nak, nak apa kau msih bisa mendengarku?, hoi masih ada 1 orang yang selamattt kirim bantuan medis segera.”

Samar samar burhan masih bisa mendengar suara itu. Dia masih hidup dan masih siap menjalani hidup.

****

”nak kau ingin kado lebaran?”

Ucap pria paruh baya berpakaian putih putih itu kepadanya. Hening, lagi lagi tidak ada jawaban.

“mohon maaf dokter, tapi tuan calon presiden ingin menemui anak itu”

Kata wanita yang juga berpakaian putih putih.

“bukankah sudah ku bilang, tolak dia. Pasienku bukan alat politik. Kau lihat sendiri kan, dia masih mengalami aphasia jangka pendek, dia masih shock. Selama burhan didalam pengawasanku . aku tidak akan membiarkanya menjadi kendaraan politik."

Dia sama sekali tidak tertarik pada pertengkaran itu, dia masih terpaku dengan rubik 3 kali 3 nya. Setelah itu dia hanya memandang tembok dengan tatapan kosong dan bibir sedikit tersenyum.

Inilah manusia, mereka adalah benalu yang menempel kepada benalu lainya. Itu semua hanya tentang mengendarai atau dikendarai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Madilog Sebuah Upaya Mengubah Pola Pikir Logika Mistika yang Kental Di Indonesia

  Madilog Sebuah Upaya Mengubah Pola Pikir Logika Mistika yang Kental Di Indonesia Identitas buku Judul Buku  : Madilog Penulis        : Tan Malaka Penerbit       : Penerbit Narasi Cetakan       : 5, 2016 Tebal Buku  : 568 halaman           Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka atau lebih dikenal dengan Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun. Ia adalah seorang           Karena kepandaian, Tan Malaka akhirnya mendapatkan sokongan dana untuk melanjutkan sekolah menengahnya ke Belanda. Di negeri inilah ia berpapasan dengan berbagai macam ideologi yang ada pada saat itu. Selesai pendidikannya di Eropa, ia kembali ke tanah air deng...
  Budaya dan 7 Sikap dasar di MAN Insan Cendekia Serpong                MAN Insan Cendekia serpong merupakan Madrasah Aliyah Negeri (Setara dengan SMAN) berbasis asrama. MAN Insan Cendekia serpong ini terletak di BSD City sektor XI,Jalan cendekia Ciater Kec. Serpong,Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. MAN Insan Cendekia Serpong didirikan pada tanggal 21 September 1996 atas ide dari Prof. Dr –Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie. MAN Insan Cendekia Serpong didirikan dengan tujuan untuk memberdayakan sekaligus mendidik para remaja Islam agar bisa bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Pada mulanya BPPT mendirikan Magnet School, yang nantinya berubah menjadi SMU  Insan Cendekia di Serpong dan Gorontalo, dan pada tahun 2001 SMU IC ini berpindah pengelola dari BPPT ke Kementerian Agama RI lalu berganti nama menjadi MAN Insan Cendekia.             Di MAN Insan Cendeki...
Pembangunan Ekonomi : Pengertian, Ciri, Indikator   Pengertian Pembangunan Ekonomi   Pembangunan ekonomi adalah proses dimana ekonomi akan tumbuh serta menjadi lebih maju, baik dalam dimensi ekonomi maupun dalam dimensi sosial. (wijaya, 2022) Secara tradisional, pembangunan ekonomi dikukur melalui indikator GNP dan GNP per kapita. Dengan begitu fokus dari kebijakan ekonomi negara adalah memaksimalkan produksi barang dan jasa sehingga GNP meningkat, dalam perjalananya, walaupun negara berhasil mencapai target pertumbuhan ekonomi. Standar hidup masyarakat tidak ikut mengalami kenaikan dan jurang ketimpangan ekonomi semakin besar. Melihat keadaan tersebut, para ekonom merumuskan indikator baru yang lebih menekankan pada penigkatan standar hidup masyarakat, pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan ekonomi. Salah satu alat ukur baru tersebut adalah indeks pembangunan manusia, yang didalamnya sudah tercantum angka harapan hidup, harapan lama sekolah, dan GNP per kapi...